• Ming. Apr 19th, 2026

Pangkalpinang – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih mengalami inflasi pada Januari 2026. Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi tercatat sebesar 0,28 persen, meski angka ini lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 0,55 persen.

Namun demikian, inflasi Bangka Belitung masih lebih tinggi dibandingkan kondisi nasional yang justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm). Kenaikan harga di Bangka Belitung pada Januari 2026 terutama didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,67 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan tersebut adalah ikan tenggiri, ikan selar, dan cumi-cumi.

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), Bangka Belitung mencatat inflasi sebesar 3,95 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,55 persen. Inflasi tahunan ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mencapai 19,20 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh tarif listrik yang kembali normal setelah berakhirnya program diskon.

Selain itu, inflasi juga dipicu oleh kenaikan harga pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 7,43 persen, yang disumbang oleh harga emas perhiasan, serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 4,20 persen, khususnya komoditas cumi-cumi. Meski demikian, tekanan inflasi tertahan oleh Kelompok Pendidikan yang mengalami deflasi cukup dalam sebesar 13,19 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menjelaskan bahwa kenaikan harga ikan dan hasil laut dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem.

“Angin kencang dan gelombang tinggi membuat nelayan memilih tidak melaut sehingga pasokan ikan dan cumi-cumi di pasar berkurang. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan harga,” ujarnya.

Meski begitu, Rommy memastikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Bangka Belitung terus berkomitmen menjaga ketersediaan stok pangan sesuai kebutuhan masyarakat.

BACA JUGA:  Gelombang Tinggi Jadi Petaka, Pemuda Hilang di Pantai Teluk Uber

Secara wilayah, seluruh daerah di Bangka Belitung yang disurvei Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Bangka Barat tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi sebesar 5,36 persen (yoy), disusul Kota Pangkalpinang sebesar 3,69 persen dan Tanjungpandan sebesar 3,29 persen. Sementara itu, Kabupaten Belitung Timur menjadi wilayah dengan inflasi terendah yakni 3,09 persen (yoy).

Rommy menambahkan, Bank Indonesia bersama TPID dan mitra strategis lainnya terus bersinergi untuk menjaga inflasi tetap rendah dan stabil sesuai target nasional 2,5±1 persen, guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagai upaya konkret, Bank Indonesia dan TPID se-Bangka Belitung memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Sepanjang tahun 2026, telah direncanakan pelaksanaan 57 kali Operasi Pasar Murah (OPM) dan 41 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) yang difasilitasi Bank Indonesia. Hingga saat ini, telah terealisasi 8 kali GPM dan 1 kali OPM.

Dari sisi pasokan, TPID juga mendorong Kerja Sama Antar Daerah (KAD) baik melalui skema Government to Government (G to G) maupun Business to Business (B to B), dengan rencana pelaksanaan sekitar empat kerja sama sepanjang tahun 2026.

Untuk menjaga kelancaran distribusi, TPID terus memantau ketersediaan barang di lapangan. Salah satunya dilakukan oleh TPID Belitung Timur melalui inspeksi mendadak ke pangkalan LPG 3 kilogram di wilayah Manggar, Gantung, dan Kelapa Kampit, guna memastikan stok tetap aman di tengah cuaca ekstrem.

Sementara dari sisi komunikasi, TPID akan terus mengelola ekspektasi masyarakat melalui penyampaian informasi yang efektif. Dalam waktu dekat, akan digelar High Level Meeting (HLM) TPID Belitung dan Belitung Timur pada minggu pertama Februari sebagai tindak lanjut rilis inflasi BPS.

BACA JUGA:  Padi Sawah Desa Namang Diserang Hama Wereng

Menutup pernyataannya, Rommy menegaskan bahwa tantangan inflasi ke depan masih ada, namun dengan Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS) bersama pemerintah daerah dan instansi terkait, inflasi di Bangka Belitung diharapkan tetap terkendali sesuai sasaran nasional.(rilis)

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *