• Rab. Jul 29th, 2026

PANGKALPINANG, BANGKABELITUNGTV.COM — Gang sempit itu nyaris tak cukup dilewati dua orang bersisian. Dinding bata merah yang belum diplester berdiri di kiri-kanan, sementara lantai halaman yang mulai retak menjadi saksi langkah beberapa orang yang datang membawa kepedulian.

Di sebuah kursi plastik biru, seorang bocah berusia 10 tahun menyambut mereka dengan senyum malu-malu.

Namanya Gavriel.

Tubuhnya tampak jauh lebih kecil dibanding anak seusianya. Tangan kirinya masih dibalut perban. Kaki kirinya juga diperban tebal. Di balik balutan itu, tersimpan rasa sakit yang belum selesai, sekaligus harapan yang masih menggantung.

Namun, saat salah seorang tamu mengangkat tangan mengajaknya tos, Gavriel spontan mengulurkan telapak tangannya.

Senyumnya mengembang.

Sesaat, luka-luka itu seperti tak lagi menjadi pusat perhatian.

Hari itu, Ketua BMI Bangka Belitung Bayu Hardiyanto bersama sejumlah relawan dan anggota Komisi I DPRD Pangkalpinang, Dio Febrian, datang ke Panti Asuhan Muara Kasih Bunda Kota Pangkalpinang.

Mereka membawa bantuan, tetapi lebih dari itu, mereka membawa waktu, perhatian, dan kesediaan untuk mendengar.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah kisah Gavriel yang diduga menjadi korban kekerasan dan penelantaran oleh ayah tirinya menyita perhatian publik.

Tak ada seremoni mewah.

Tak ada panggung.

Hanya percakapan sederhana di teras rumah, diselingi tatapan iba dan sesekali tawa kecil yang berhasil dipancing dari bocah itu.

Ibu Ayu, pengasuh Panti Asuhan Muara Kasih Bunda, menceritakan kondisi Gavriel yang masih menjalani proses pemulihan. Luka yang dideritanya diduga telah berkembang menjadi infeksi tulang (osteomielitis/TBC tulang) sehingga masih menunggu keputusan medis mengenai langkah penanganan terbaik, termasuk kemungkinan tindakan amputasi jika memang diperlukan.

Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.

Tak ada yang mampu menyembunyikan raut prihatin.

BACA JUGA:  GMKI Pangkalpinang Tegaskan Polri Harus Tetap di Bawah Presiden, Demi Jaga Independensi dan Netralitas

Namun, di tengah percakapan itu, Gavriel justru menunjukkan sesuatu yang berbeda.

“Aku pengen sekolah.”

Kalimat sederhana itu meluncur tanpa beban.

Bukan tentang rasa sakitnya.

Bukan tentang luka di tubuhnya.

Yang paling ia pikirkan justru ruang kelas, teman-teman, buku, dan kesempatan belajar seperti anak-anak lainnya.

Barangkali, itulah yang membuat siapa pun yang hadir siang itu sulit menahan haru.

Di usia ketika anak-anak lain sibuk bermain sepak bola, mengejar layangan, atau mengeluh karena tugas sekolah, Gavriel sedang berjuang mempertahankan kakinya.

Tetapi mimpinya tetap sama.

Ia ingin belajar.

Ia ingin sekolah.

Ia ingin menjadi anak seperti yang lain.

Ketua BMI Bangka Belitung, Bayu Hardiyanto menegaskan bahwa kepedulian tidak boleh berhenti pada penyerahan bantuan. Organisasi tersebut bersama berbagai pihak berkomitmen mengawal proses pengobatan Gavriel hingga tuntas, sekaligus memastikan ia kembali memperoleh haknya sebagai anak untuk hidup, tumbuh, dan mengenyam pendidikan.

Komitmen serupa juga disampaikan Dio Febrian yang menyatakan akan ikut mengawal proses tersebut agar tidak berhenti hanya sebagai perhatian sesaat.

Karena sesungguhnya, yang dibutuhkan Gavriel bukan hanya obat.

Ia membutuhkan rasa aman.

Tempat pulang.

Orang-orang yang percaya bahwa masa depannya masih layak diperjuangkan.

Sore mulai turun ketika rombongan berpamitan.

Gavriel kembali melambaikan tangan.

Senyumnya masih sama.

Di balik tubuh kecil yang dipenuhi luka itu, tersimpan keberanian yang mungkin bahkan tidak dimiliki banyak orang dewasa.

Di teras sederhana Panti Asuhan Muara Kasih Bunda, harapan itu belum padam.

Dan selama masih ada orang-orang yang memilih hadir, menggenggam tangannya, dan mengawal langkahnya, Gavriel tidak sedang berjuang sendirian.

Sebab terkadang, kepedulian bukan tentang seberapa besar bantuan yang diberikan.

BACA JUGA:  Jurnalis Dipukul dan Ditahan Saat Meliput di Gudang PT PMM Air Anyir

Melainkan tentang memastikan seorang anak tetap memiliki alasan untuk percaya bahwa masa depan masih menunggunya. (ms)

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *