• Sel. Jul 28th, 2026

BANGKA BARAT, BANGKABELITUNGTV.COM – Polemik dugaan dampak pembukaan lahan terhadap kekeruhan Sungai Butun di Dusun Kendodong, Desa Tumbak Petar, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, memasuki babak baru.

Setelah sebelumnya warga mengeluhkan air sungai berubah keruh dan hasil tangkapan udang menurun, Pemerintah Desa Tumbak Petar kini menyampaikan hasil klarifikasi dan verifikasi lapangan.

Kepala Desa Tumbak Petar, Parli atau yang akrab disapa Juki, menyampaikan bahwa lokasi pembukaan lahan yang menjadi sorotan masyarakat berada di luar kawasan hutan.

“Izin melaporkan hasil klarifikasi dan verifikasi lapangan. Lokasi yang dipermasalahkan berada di luar kawasan hutan,” ujar Juki yang disampaikannya melalui pesan WhatsApp kepada awak media, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diperoleh pemerintah desa, Dinas PUPR Kabupaten Bangka Barat juga telah lebih dulu meninjau lokasi tersebut dan memberikan petunjuk terkait rencana pembangunan pabrik kelapa sawit.

Juki juga membantah informasi yang menyebut telah terjadi kerusakan daerah aliran sungai (DAS) hingga ratusan hektare.

“Di lapangan ditemukan lahan yang terbuka dibuat tanggul di pinggir anak sungai menggunakan alat berat sepanjang kurang lebih 50 meter. Lahan yang dilaporkan rusak itu bukan hutan primer, melainkan belukar yang telah dikelola masyarakat secara turun-temurun,” jelasnya.

Terkait rencana pembangunan pabrik kelapa sawit, Juki mengatakan hingga saat ini belum ada aktivitas pembangunan fisik.

“Berdasarkan keterangan pelaksana lapangan, izin lingkungan masih dalam proses. Fakta di lapangan memang belum ada kegiatan pembangunan pabrik sawit,” katanya.

Sebelumnya, warga yang berprofesi sebagai nelayan dan pencari udang di Sungai Butun mengeluhkan kondisi air sungai yang berubah keruh dalam beberapa waktu terakhir.

Mereka mengaku hasil tangkapan udang menurun dan menduga perubahan tersebut berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan di sekitar kawasan Dusun Kendodong.

BACA JUGA:  Setelah Berbulan-bulan Dinanti, Pelapor Kasus Dugaan Penipuan ASN Basel Akhirnya Diperiksa Penyidik

Keluhan itu memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi dampak lingkungan apabila pembukaan lahan terus berlanjut.

Warga juga meminta pemerintah daerah bersama instansi teknis melakukan pengujian kualitas air untuk memastikan penyebab kekeruhan Sungai Butun berdasarkan data ilmiah, bukan sekadar dugaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sebelumnya, lahan yang sedang dibuka disebut-sebut berkaitan dengan pengusaha Ahon Bakit.

Namun hingga kini belum ada keterangan resmi dari Ahon Bakit maupun pihak perusahaan terkait mengenai keluhan warga tersebut.

Meski Pemerintah Desa Tumbak Petar telah memberikan klarifikasi bahwa lokasi berada di luar kawasan hutan dan pembangunan pabrik sawit belum dimulai, satu persoalan penting masih menyisakan tanda tanya, yakni apa penyebab pasti air Sungai Butun berubah keruh dan apakah aktivitas pembukaan lahan memiliki kontribusi terhadap kondisi tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan itu, pengujian kualitas air oleh instansi berwenang dinilai menjadi langkah yang paling objektif.

Hasil uji laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan apabila ditemukan adanya dampak lingkungan dari aktivitas di kawasan tersebut.

Di sisi lain, proses perizinan lingkungan yang masih berlangsung juga menjadi perhatian publik.

Sejumlah warga berharap setiap tahapan investasi dilakukan secara transparan, memenuhi seluruh ketentuan perundang-undangan, serta tidak mengorbankan keberlangsungan ekosistem Sungai Butun yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian masyarakat.

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *