• Ming. Apr 19th, 2026

PANGKALPINANG, BABELTV.COM — Perubahan musim mulai terasa di berbagai wilayah Indonesia pada awal April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau lebih awal, dengan tren yang diperkirakan akan terus meluas hingga pertengahan tahun.

Berdasarkan data klimatologi terbaru, hingga akhir Maret 2026 baru sekitar 7 persen wilayah Indonesia yang masuk musim kemarau. Namun, angka tersebut diprediksi meningkat signifikan sepanjang April hingga Juni, seiring pergeseran pola angin dan penurunan curah hujan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini cenderung datang secara bertahap, namun berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah.

“Kami memprediksi musim kemarau akan meluas secara bertahap mulai April hingga Juni. Beberapa wilayah berpotensi mengalami kondisi lebih kering dari normal,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Selain faktor musiman, BMKG juga mengingatkan adanya potensi fenomena El Nino pada semester II 2026 dengan probabilitas mencapai 50 hingga 80 persen.

Fenomena ini dikenal dapat mengurangi curah hujan secara signifikan di Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.

 

Dampak Nyata di Bangka Belitung

Bagi wilayah kepulauan seperti Bangka Belitung, perubahan musim ini membawa dampak langsung terhadap berbagai sektor.

Perubahan pola angin dan gelombang laut membuat aktivitas melaut menjadi lebih berisiko. Nelayan tradisional berpotensi mengurangi frekuensi melaut karena cuaca yang tidak menentu.

Penurunan curah hujan juga berpotensi menyebabkan krisis air bersih, terutama di wilayah yang bergantung pada tadah hujan. Jika kondisi berlanjut, harga air bersih berpotensi meningkat, terutama di daerah pesisir dan pulau kecil di Babel.

Musim kemarau juga identik dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lahan gambut dan semak kering menjadi sangat rentan terbakar.

BACA JUGA:  Pemkab Bangka Tengah Apresiasi Polsek dan Satkamling Berprestasi

BMKG mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

“Pencegahan harus dilakukan lebih awal, terutama di wilayah rawan kebakaran,” tegas Dwikorita.

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *