• Ming. Apr 19th, 2026

PANGKALPINANG, BABELTV.COM – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak luas ke sektor industri global. Salah satu yang paling terdampak adalah industri plastik, di mana harga bahan baku dan produk turunannya dilaporkan melonjak drastis, bahkan mencapai hingga 70 persen di sejumlah pasar.

Lonjakan ini dipicu terganggunya jalur distribusi energi dan petrokimia global, terutama di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut membuat pasokan minyak dan gas terganggu, sehingga berdampak langsung pada industri plastik yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Sebagai informasi, lebih dari 99 persen plastik dunia diproduksi dari bahan berbasis minyak dan gas seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP). Ketika harga energi melonjak lebih dari 40 persen sejak konflik memanas, biaya produksi plastik pun ikut terdongkrak secara signifikan.

Bahkan, laporan pasar menunjukkan harga resin plastik mengalami kenaikan dua digit dalam waktu kurang dari satu bulan, dengan beberapa jenis mencatat lonjakan tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga mulai menjalar ke konsumen. Produk sehari-hari seperti kemasan makanan, botol minuman, hingga kantong plastik diperkirakan akan mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan ke depan.

“Plastik sangat sensitif terhadap harga energi, sehingga ketika biaya bahan baku naik, seluruh rantai pasok ikut terdampak,” ujar Patrick Penfield, Profesor Manajemen Rantai Pasok di Syracuse University.

Sementara itu, ekonom dari NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, menilai masyarakat kemungkinan besar akan merasakan dampaknya tanpa menyadari penyebab utamanya.

“Konsumen sering hanya melihat harga naik, tanpa tahu faktor global di baliknya,” katanya.

BACA JUGA:  Inflasi Bangka Belitung Tetap Terkendali, Terendah Ketiga Secara Nasional

Di Indonesia, pelaku industri juga mulai merasakan tekanan. Asosiasi industri plastik menyebut gangguan pasokan bahan baku seperti nafta dan minyak dari Timur Tengah menjadi faktor utama kenaikan harga.

Sekretaris Jenderal INAPLAS, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa masalah utama bukan sekadar kenaikan harga, melainkan terganggunya suplai dari hulu.

“Pasokan bahan baku dari Selat Hormuz terhambat, ini yang menyebabkan tekanan harga,” ujarnya.

Kondisi ini berpotensi memicu efek domino terhadap inflasi global, terutama pada sektor makanan dan barang konsumsi yang menggunakan kemasan plastik. Para analis memperkirakan dampaknya bisa berlangsung hingga satu hingga dua tahun, bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat.

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *